Dinamika Syiah di Kota Cirebon, Jawa Barat

0
452
dinamika syiah di kota cirebon

Dinamika Syiah di Kota Cirebon, Jawa Barat
Oleh: Asnawati

Sekilas Kota Cirebon

Berdasarkan data kependudukan tahun 2014, penduduk Kota Cirebon yang terbagi menjadi 5 Kecamatan dan 22 Desa ini telah mencapai 384.000 jiwa. Adapun komposisi penduduk berdasarkan agama terdiri atas: Islam (273.87 jiwa), Katolik (14.515 jiwa), Kristen (7.778 jiwa), Hindu (30 jiwa), Buddha (3.795 jiwa). Di Kota Cirebon, terdapat 5 masjid besar untuk tingkat kecamatan, 227 masjid tingkat desa, dan 475 Musholla, 2 Gereja Katolik, 26 Gereja Protestan, 1 Pura, 4 Vihara dan 1 Klenteng meskipun tidak terdata jumlah umatnya.

Sejarah Mazhab Syiah di Kota Cirebon

Berdasarkan naskah Kunopada buku “Nagarakretabhumi” karya Pangeran Arya tahun 1720 yang diterjemahkan Drs. Atja dan Prof. Ayatrohaedi, diperoleh keterangan mengenai Syekh Lemah Abang atau Syekh Abdul Jalil (SAJ).

SAJ berdarah Arab, lahir di Malaka, dan masih kerabat Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi) di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dari naskah ini pula, diperoleh keterangan bahwa Sunan Kalijaga serta Raden Sutawijaya (leluhur Kesultanan Mataram) merupakan penganut Syiah, dan Sunan Kalijaga merupakan lawan utama dalam debat teologis dengan SAJ. Tetapi setelah SAJ meninggal, Sunan Kalijaga justeru mengikuti jejak SAJ.

Namun demikian, terkait periode masuknya Syiah di Cirebon, menurut MUI dan ABI, tidak ada yang mengetahuinya secara pasti siapa awal pembawa Syiah di Cirebon. Mereka hanya mengetahui sosok yang ditokohkan Syiah di Cirebon adalah Muhammad Habib Hasan Al-Kaf yang tinggal di Jl. KS. Tubun ketika masih menjadi takmir Masjid At-Taqwa di tahun 2007.

Menurut Wasi (Penyuluh Agama di Kota Cirebon), dirinya mengenal Muhammad Habib Hasan Al-Kaf karena sering sholat berjamaah di Masjid At-Taqwa. Namun dia tidak pernah menyaksikan Muhammad Habib Hasan Al-Kaf mengajak jamaah Masjid At-Taqwa untuk menjadi pengikut Syiah.

Dia memberikan ceramah hanya untuk kalangannya sendiri di Jl. KS. Tubun. Kegiatan majelis taklim yang dibimbingnya diselenggarakan rutin setiap malam rabu dan pada malam jumat mereka melakukan pembacaan tawasul dan doa Khumail.

Bahkan di saat acara maulidan di Masjid AtTaqwa yang dihadiri masyarakat, Habib selalu hadir bersama jamaahnya. Caranya berdakwah pun tidak pernah membuat masyarakat lainnya marah dan membenci mereka.

Syiah di Cirebon memang belum terlalu tampak seperti di daerah-daerah lain di Indonesia. Jumlah mereka pun masih terbilang sedikit dan menyebar di beberapa kecamatan. Hubungan antara masyarakat Sunni dan Syiah di sana berlangsung cukup baik.

Seiring waktu, muncul upaya pencegahan dan penyadaran masyarakat tentang bahaya dan kesesatan Syiah yang dilakukan organisasi Al-Manar. Mereka bahkan bermaksud menggelar Deklarasi Anti Syiah. Namun, keinginan Al-Manar ini dicegah oleh MUI. Kekhawatiran MUI terjadi, Al-Manar mendapat perlawanan dari Banser yang berusaha mencegah mereka melakukan Deklarasi Anti Syiah.

Tujuan Banser sangatlah baik yakni mencegah terjadinya keributan di Kota Cirebon.

Struktur Organisasi ABI Kota Cirebon

Secara kelembagaan, ABI di Kota Cirebon belum terbentuk secara struktural. Posisi Edi hanya sebagai koodinator saja.

Ketika ABI di tingkat pusat meminta mereka membentuk ABI, Edi masih menolaknya dikarenakan ketiadaan SDM. Posisi kordinator bertujuan untuk memudahkan komunikasi dengan umat dalam hal pelaksanaan kegiatan rutin seperti majelis doa (harian, mingguan bulanan dan tahunan) di setiap malam rabu dan jumat.

Mereka melakukan aktifitas tersebut terkadang berpindah tempat secara bergiliran tergantung permintaan jemaah. Kegiatan rutin keagamaan komunitas Syiah tersebut umumnya dihadiri oleh 100 orang jemaah pengikut Syiah.

Taqiyah Syiah

Istilah yang seringkali disematkan pada komunitas Syiah salah satunya adalah Taqiyah. Mengenai istilah ini, dalam buku putih Mazhab Syiah disebutkan bahwa ulama Syiah membaginya menjadi dua yaitu Taqiyah Makhafatiyah dan Mudaratiyah.

Taqiyah Makhafatiyah adalah taqiyah dikarenakan takut bahaya dan Taqiyah Mudaratiyah ditujukan untuk menjaga perasaan orang yang berbeda dengannya, demi terjalinnya hubungan baik antarkeluarga atau umat yang berbeda, untuk menghindarkan fitnah yang dapat meresahkan masyarakat atau demi terealisasinya persatuan umat Islam.

Taqiyah inilah yang kemudian menyebabkan sulitnya mengetahui secara pasti keberadaan orang-orang Syiah di Indonesia, sehingga orang-orang yang berada di sekitar mereka tidak menyadari keberadaan seseorang sebagai muslim Syiah atau bukan?. Namun demikian, sudah banyak ciri-ciri yang menunjukkan bahwa seseorang itu beraliran Syiah.

Sebenarnya, istilah taqiyah dikenal pula di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah. Bagi pengikut Ahlussunnah wal Jamaah, taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam, ketika perang dan saat kondisi yang sangat membahayakan orang Islam.

Lembaga dan Perayaan Komunitas Syiah di Kota Cirebon Hingga saat ini, komunitas Syiah di Cirebon belum memiliki masjid, kecuali Yayasan Al-Khadzim dan Majelis AlBayyan sebagai tempat berkumpulnya umat menimba ilmu agama.

Mereka masih sering beribadah di Masjid At-Taqwa meskipun tidak mengajarkan dan menyebarkan paham Syiah di sana. Meskipun Habib Hasan Al-Kaf sering berjamaah di Masjid At-Taqwa, namun hanya sebagian pengurus masjid yang mengetahuinya sebagai Syiah. Habib Hasan Al-Kaf sering bershodaqoh jariah ke Masjid At-Taqwa di antaranya membelikan mobil Jenazah, yang kini sudah beroperasi di Masjid At-Taqwa.

Jumlah pengikut Syiah baru bisa tampak pada acara Milad Fatimah yang diselenggarakan di rumah Habib Hasan Al-Kaf yakni sekitar 250 orang. Menurut Wasi dan Andi Mulya, pengikut Syiah di Kota Cirebon belum berani melakukan aktifitas keagamaannya secara terang-terangan.

Selanjutnya, mengenai perayaan komunitas Syiah di Kota Cirebon yakni perayaan Asyura, Hasyim sebagai pengikut Syiah (kedua orang tuanya merupakan pengikut Syiah), membantah pernyataan yang menyebut Asyura sebagai perayaan ritual berdarah-darah.

Bantahan ini muncul setelah pembatalan rencana perayaan tersebut di Gedung Pemuda yang telah disewa oleh pengikut Syiah. Padahal perayaan Asyura ini merupakan ekspresi keagamaan pengikut Syiah dan tidak benar dilakukan hingga berdarah-darah. Meskipun terjadi pembatalan, selama ini di Kota Cirebon tidak pernah ada tulisan/spanduk/pamfllet terkait anti Syiah.

Pelaksanaan Ibadah Pengikut Syiah

Terkait dengan pelaksanaan shalat, Hasyim mengatakan bahwa di fiqih Syiah ada fatwa yang mengatakan bahwa apabila Imam shalat bukan dari kalangan Syiah, maka harus di ulangi shalatnya. Hasyim sendiri lebih sering melakukan ibadah shalat di rumah dan jarang berjamaah. Bagi Syiah, shalat merupakan salah satu rukun Islam.

Shalat dilihat dari makna linguistiknya ialah doa, tetapi berdasarkan istilah syar’i-nya ialah suatu pekerjaan dan ucapan yang di dahului dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Dari penjelasan tersebut, jelas tidak ada bedanya antara Syiah dan Sunni dalam menempatkan shalat sebagai salah satu rukun Islam.

Hal yang membedakan keduanya, menurut Hasyim sebagai pengikut mazhab Syiah adalah masalah furu (hal-hal fiqih), misalnya wudhu pada Syiah, yang dibasuh muka dan tangan sementara rambut dan kaki dengan mengusap dan tidak lagi dengan mengambil air lagi, tetapi menggunakan sisa air yang ada di tangan.

Relasi Komunitas Syiah dan non-Syiah.

Komunitas Syiah di Kota Cirebon menurut penyuluh agama setempat, dipandang kurang bersilaturahmi dan menjalin keakraban dengan komunitas selain Syiah. Kalaupun mereka datang menghadiri kegiatan di Masjid At-Taqwa, mereka tidak hadir dengan identitasnya sebagai Syiah melainkan sebagai pengikut Ahlussunnah wal Jamaah.

Hanya orang-orang tertentu saja yang memahami mereka sebagai pengikut mazhab Syiah. Bahkan sebagian besar masyarakat Kota Cirebon, tidak mengetahui secara pasti kehadiran dan keberadaan gerakan Syiah di sana.

IAIN Cirebon pernah menyelenggarakan acara dialog dengan menghadirkan Jalaluddin Rakhmat sebagai narasumber, namun ia tidak dapat hadir dan diwakilkan oleh penggantinya. Dalam dialog tersebut, pengikut Syiah tidak diberikan kesempatan untuk berbicara.

Sehingga relatif sulit menjalin hubungan dengan ormas yang ada di Kota Cirebon dikarenakan muncul sentimen anti Syiah. Meskipun demikian, masih ada upaya kaum nahdliyin terutama dari kalangan muda nahdliyin yang tetap menjalin hubungan lebih dekat dengan komunitas Syiah. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kondusifitas dan kerukunan di Kota Cirebon.

Peran Pemerintah

Sejauh ini belum ada upaya pemerintah memanggil tokoh Syiah di Kota Cirebon untuk berdialog dalam rangka menjalin tali silaturahmi. Hal ini dikarenakan tidak ada kasus keagamaan yang serius menyangkut Syiah di sana sebagaimana terjadi di daerah lain di Indonesia.

Kemudian berkenaan dengan fatwa sesat terhadap Syiah, pihak kepolisian Kota Cirebon selalu mengingatkan kepada pengurus organisasi Al-Manar untuk tidak mengambil sikap terhadap komunitas Syiah tanpa diketahui aparat setempat.

Di Kota Cirebon, justeru yang perlu diwaspadai adalah gerakan Wahabi. Gerakan ini menurut Nazaruddin Aziz (Walikota Cirebon), membuat gaduh (mengusik) kebiasaan orang Cirebon, misalnya ziarah kubur yang dianggapnya bid’ah, masuk neraka, dll.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Di Kota Cirebon, komunitas Muslim Syiah belum menampakkan diri sebagai sebuah komunitas yang aktif melakukan aktifitas keagamaan, sehingga tidak membuat resah umat Muslim lainnya. Belum beraninya pengikut Syiah menampakkan diri, diperkirakan masih sangat sedikit jumlahnya, meskipun tersebar di beberapa kecamatan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, antara umat Muslim Sunni dan Syiah di Kota Cirebon masih dalam batas kewajaran, bahkan para pengikut Syiah seringkali melakukan shalat berjamaah bersama kaum Sunni di Masjid At-Taqwa.
  2. Komunitas Syiah di Kota Cirebon dianggap kurang bersilaturrahmi dengan masyarakat Sunni di sana. Selain itu, mereka juga tidak menyatakan identitasnya secara terbuka sebagai Syiah, tetapi sebagai Ahlussunnah wal Jamaah.
  3. Terkait peran pemerintah dalam hal merukunkan kedua pengikut mazhab Syiah dan Sunni, selama ini belum banyak upaya yang dilakukan pemerintah setempat. Hal ini dikarenakan hubungan antara Syiah dan Sunni di Kota Cirebon, masih berlangsung dalam batas kewajaran.

Rekomendasi

  1. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam memahami berbagai macam aliran, paham dan gerakan keagamaan, diperlukan peningkatan pengetahuan keagamaan dan kewaspadaan dari para penyuluh agama.
  2. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, sebaiknya mendorong upaya dialog Syiah dan Sunni dengan tetap mengedepankan sikap santun dan semangat persaudaraan antar sesama umat Islam, serta tidak mengklaim kebenaran individu dengan menafikan pendapat kelompok lain.

Daftar Pustaka

Abdusshomad, Muhyiin. 2008. Hujjah NU: Akidah AmaliahTradisi. Surabaya: Khalista.

Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI). 2012. Buku Putih Mazhab Syiah, Menurut Para Ulamanya yang Muktabar. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia.

Abou El Fadl, Khaled. 2004. Islam dan Tantangan Demokrasi. Jakarta: Ufuk Press.

Sodiqin, Hasan. 2013. Relasi manajemen Colbu Daarut Tauhid dan Syiah Al-jawad dalam Membentuk Kerukunan Internal Umat Islam di Kecamatan Sukasari Kota Bandung. Laporan penelitian. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Kementerian Agama RI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here