Dinamika Syiah di Kota Pekalongan

0
295
Dinamika Syiah di Kota Pekalongan

Dinamika Syiah di Kota Pekalongan

Oleh: Agus Mulyono

Pendahuluan

“Saya selama ini belum pernah masuk di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hadi, saya juga belum pernah berdialog, berdiskusi dengan orang-orang Syiah. Saya takut jatidiri saya larut ke Syiah, sehingga apa yang sudah saya yakini sampai sekarang akan lepas.

Saya banyak melakukan pembinaan keagamaan di luar lingkungan Pesantren Al-Hadi, karena masih lebih banyak yang membutuhkan” begitulah ungkapan salah satu Penyuluh Agama Islam Kota Pekalongan. Padahal Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan “Sebagian dari Syiah, yaitu Ja’fariyah dan Zaidiyah, diakui sebagai bagian dari Islam.

Seperti yang ada di Iran dan negara-negara lain, mereka berhaji juga ke Mekkah” Penjelasan senada juga disampaikan Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah “tidak ada beda Sunni dan Syiah. Dialog merupakan jalan terbaik, guna menghadapi perbedaan yang ada dalam keluarga besar umat Islam ini”

Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syiah. Tidak dapat dimungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak, Suriah, Libanon, dan lain-lain. Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syiah sebagai sebuah mazhab teologi, menarik untuk dilihat lebih lanjut terutama di Indonesia.

Namun, dalam penelitian ini akan difokuskan pada perkembangan gerakan Syiah di Kota Pekalongan.

Secara historis, komunitas Syiah Indonesia mulai muncul di Bangsri, Jepara tahun 1982. Pengikutnya berjumlah 300 orang dan dikembangkan oleh Abdul Qadir Bafaqih di Pesantren Al-Khairat. (Tim Peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan, 1986-1987, hlm. 43-44.)

Adapun secara kelembagaan, komunitas Syiah memiliki dua organisasi yakni ABI dan IJABI. ABI didirikan pada 15 Juni 2011 di Jakarta dan dipimpin oleh Hassan Alaydrus. Sedangkan IJABI didirikan pada 1 Juli 2000 di Bandung yang dideklarasikan oleh Jalaluddin Rahmat.

Dalam hal aliran, Syiah yang banyak diikuti di Kota Pekalongan termasuk ke dalam aliran Imamiah atau Itsna ‘Asyariah sebagai aliran terbesar di dalam Syiah. Dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Urutan imam mereka yaitu:

1). Ali bin Abi Thalib (tahun 600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin;

2). Hasan bin Ali (tahun 625–669), juga dikenal dengan Hasan alMujtaba;

3). Husain bin Ali (tahun 626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid;

4). Ali bin Husain (tahun 658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin;

5). Muhammad bin Ali (tahun 676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir;

6). Jafar bin Muhammad (tahun 703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq;

7). Musa bin Ja’far (tahun 745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim;

8). Ali bin Musa (tahun 765– 818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha;

9). Muhammad bin Ali (tahun 810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at-Taqi;

10). Ali bin Muhammad (tahun 827– 868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi;

11). Hasan bin Ali (tahun 846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari, dan;

12). Muhammad bin Hasan (868— ?), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi.

Penelitian tentang gerakan Syiah di Kota Pekalongan ini terfokus pada komunitas Syiah yang berada di Pondok Pesantren Al-Hadi. Hal ini dilakukan karena ada informasi dan data yang menunjukkan bahwa Kota Pekalongan merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan Mazhab Ahlul-Bait di Indonesia yang cukup pesat selain Bandung, Bangil, Lampung, Makassar, dan lain-lain. Oleh karena secara organisasi ABI tidak ada di Kota Pekalongan maka penelitian ini terkonsentrasi di komunitas Syiah di Pesantren Al-Hadi. Untuk menguatkan data, pada tahun 2000- an muncul reaksi terhadap komunitas Syiah di Pekalongan mulai dari reaksi lunak sampai bentuk tindakan kekerasan yang justeru memperburuk citra Islam sebagai agama damai. (Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Cet. ke-9, 2004, hlm. 66-76, menjelaskan dengan sangat baik tentang apa itu Islam berdasarkan alQur’an dan as-Sunnah yakni Islam adalah agama damai, rahmatan lil’alamin atau menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.)

Akibat berbagai peristiwa kekerasan terhadap Syiah ini, para pecinta ukhuwah berharap agar para ulama tidak terlibat propaganda anti Syiah. Selain itu, umat Islam Indonesia diharapkan tunduk pada al-Quran, as-Sunnah, HAM dan ratifikasinya, Pancasila, konstitusi dan Bhinneka Tunggal Ika. Harapan lainnya adalah adanya adaptasi dengan lingkungan agar terjadi integrasi antara anggota masyarakat apapun agama, ormas dan paham keagamaannya. Saling mendekat dan menyesuaikan diri tentu saja jalan terbaik dan sangat konstitusional yang harus diwujudkan bersama.

Atas dasar latar belakang di atas, Puslitbang Kehidupan Keagamaan memandang perlu melakukan penelitian mengenai gerakan Syiah di Kota Pekalongan yang terfokus pada komunitas Syiah di lingkungan Pesantren Al-Hadi.

Sekilas Kota Pekalongan

Sejak dulu, Kota Pekalongan dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat religiusitas yang cukup tinggi, indikatornya adalah banyaknya jumlah pondok pesantren yang ada yakni 44 buah dengan jumlah santri mencapai 4.706 orang. Keberagaman pemeluk agama tidak lagi menimbulkan permasalahan yang berarti menunjukkan kondusifnya kehidupan antar umat beragama Kota Pekalongan. Agama Islam merupakan agama mayoritas penduduk Kota Pekalongan, sedangkan agama lain yang dianut sebagian warga Kota Pekalongan adalah Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Kehidupan beragama yang harmonis sangat didambakan masyarakat.

Hal ini terlihat dari tempattempat peribadatan yang ada di sekitar warga, seperti mesjid, gereja, dan lainnya. Banyaknya tempat peribadatan di Kota Pekalongan pada tahun 2014, mencapai 745 unit, yang terdiri dari 614 musholla, 108 masjid, 14 gereja, 5 vihara, 3 Pura dan 1 elenteng. (Kota Pekalongan dalam Angka Tahun 2015, hal 63)

Kota Pekalongan secara etnik didominasi oleh Suku Jawa yang bertutur dengan bahasa jawa dialek khas pesisir barat (Dialek Pesisir/Pantura) yang cenderung mirip dialek Banyumasan. Sejarah Pekalongan sebagai kota pelabuhan dan perdagangan membuatnya memiliki sejumlah komunitas pendatang yang menonjol, seperti etnis Cina dan Arab, selain tentu saja suku-suku Nusantara lain seperti suku Melayu dan Banjar.

Perkembangan Syiah dan Pondok Pesantren Al-Hadi

Di Kota Pekalongan, tepatnya di Kelurahan Klego, telah menjadi pusat perkembangan syiah melalui media pendidikan yaitu Pondok Pesantren Al-Hadi, yang mulanya memiliki penganut yang berasal dari Suku Arab.

Hal ini dikarenakan sejarah Syiah dikembangkan oleh Suku Arab, sehingga tradisi Syiah banyak dipengaruhi oleh budaya Arab. Komunitas Syiah Pekalongan umumnya berdomisili di Kampung Arab yang terkonsentrasi di tiga kelurahan: Klego, Krapyak, dan Sugih Waras, Kota Pekalongan Timur. Penganut Syiah Pekalongan memang didominasi keturunan Arab, tetapi ada juga beberapa waga asli Indonesia.

Ponpes Al-Hadi di Pekalongan yang dipimpin oleh Ahmad Baraqbah merupakan satu-satunya Ponpes Syiah yang dikelola dengan sistem pendidikan ala Hawzah Ilmiyah di Qum, Iran. Seluruh mata pelajaran adalah bidang agama. Ada tiga kelas di Pesantren Al Hadi yaitu, kelas muqadimah, kelas sutuh dan kelas takhasus. Para santri berasal dari berbagai daerah, di antaranya Sampang, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan. Kalau alumni pada tahun 1990-an berasal dari mancanegara, ada yang dari Malaysia dan Thailand. Para alumninya banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia, ada yang menjadi menjadi mubaligh, ustadz, penerjemah, penulis, “yang penting ilmu mereka bermanfaat”, tutur M. Ridlo Asegaf.

tidak sampai konfrontasi dengan pihal lain. Orang Syiah berharap agar tetap menjaga persatuan, etika, dalam bertabligh dan berdakwah dan itu memang yang diajarkan para ulama. “Kalau ada lembaga Syiah yang berkonfrontasi dengan lembaga lain maka ABI akan lepas tangan”, ungkap M. Ridlo Asegaf. Lembaga-lembaga Syiah selalu berpesan kepada anak didiknya ketika hendak keluar dari Pesantren Al-Hadi untuk menjaga nasionalisme, ataupun bidang keagamaannya. Orang Syiah tidak memberikan pesan kepada santri/alumni untuk tidak tunduk kepada negara, karena menurut mereka “hubbul waton minal iman.” Ketika para alumni Pesantren Al Hadi sudah berkiprah di masyarakat, seperti dakwah misalnya, mereka diharapkan

Ponpes Al-Hadi Pekalongan didirikan pada tahun 1409 H/1988 M beralamat di Jl. Agus Salim, Gang 5 No. 4 RT. 01 RW. 03, Kelurahan Klego, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Lokasinya terletak di tengah kota di wilayah yang dikenal dengan kampung Arab dengan luas lahan sekitar 1,5 hektar. Ponpes ini dikelilingi 3 ruas jalan utama, namun tidak terdapat plang nama Ponpes Al-Hadi di pinggir jalan. Plang nama dipasang di depan depan bangunan Ponpes Al-Hadi. Sehingga tidak aneh, jika warga Pekalongan non-Arab jarang yang mengenalnya.

Pimpinan Ponpes Al-Hadi adalah Ahmad Baraqbah dan Thoha Musawa. Jumlah santrinya pada juni 2016 sekitar 29 orang putra-putri. Semua mata pelajaran adalah agama dan tidak ada pelajaran umum. Tahun ajaran dimulai tanggal 15 Syawal setiap tahun. Santri umumnya menjalani pendidikan sekitar 4 tahunan, 2 tahun di kelas muqadimah dan 2 tahun di kelas sutuh. Selain itu, masih ada program takhasus 1 tahun bagi yang mau mengikuti. Alumni Ponpes Al-Hadi tersebar di berbagai wilayah Indonesia, namun ada juga yang melanjutkan pendidikan ke Iran. Pada tahun 2015, ada satu santri yang melanjutkan ke Qum Iran dan pada tahun 2016, ketika penelitian ini dilakukan belum ada yang melanjutkan ke Iran.

Pada tahun 1998 Ponpes Al-Hadi mendirikan cabang di lahan seluas 6.500 m2 terletak di Desa Brokoh, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Rencananya, cabang itu dikhususkan untuk santri putra, sementara santri putri tetap di Pekalongan. Namun, ia hanya efektif berjalan selama 2 tahun (1998-2000) sebab diprotes oleh warga di sekitar pesantren karena dituding menyebarkan aliran sesat, dan akhirnya ditutup pada tahun 2000. (Misbahul Huda. Wawancara. 3 Juni 2016)

Sebagian besar biaya pembangunan Ponpes Al-Hadi baik di Pekalongan maupun Batang diperoleh dari luar negeri, khususnya dari Iran, Lebanon, dan komunitas Syiah lainnya di Arab Saudi dan Bahrain. Menurut Ahmad Baraqbah, jumlah komunitas Syiah di Pekalongan hanya sekitar 200 orang, hal ini juga dikuatkan informasi dari M. Ridlo Asegaf.

Selain Pesantren Al-Hadi, ada juga SMP Insan Semesta yang berada di bawah kordinasi komunitas Syiah di Kota Pekalongan. Namun SMP ini terletak di Jl. Sidorejo Rt. 04/06 Kedawung, Comal, Pemalang. SMP ini adalah sekolah Islam yang memadukan kurikulum pemerintah dan program pendidikan ilmu-ilmu Islam. Menerapkan konsep multiple intelligences (kecerdasan majemuk) dan metode active learning (belajar aktif) dalam kegiatan pembelajaran. Jumlah siswa dari kelas 7 s.d. 9 sebanyak 57 anak.

Para siswa, pengajar dan pegawainya tidak hanya dari orang-orang Syiah, namun juga Sunni dan dari lingkungan sekitarnya, sehingga terjalin hubungan yang baik di masyarakat. Ada juga Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) Cahaya Hati yang dikelola oleh orang Syiah. TPQ ini terletak Jl. Singgarak, Kota Pekalongan. Siswa yang mengikuti pendidikan tidak hanya dari anak-anak orang Syiah, namun juga dari penduduk sekitarnya. Kepala TPQ Cahaya Hati adalah Hasyimi, sekaligus pemiliknya. (M. Ridlo Asegaf dan Penyuluh Agama Islam Kota Pekalongan. Wawancara. 3 Juni 2016.)

Ajaran dan Ritual dalam Kelompok Syiah

Ushuluddin dan Furu’

Dalam Syiah ada Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan Furu’ (cabang-cabang agama). Bagi orang Syiah dasar-dasar agama terdiri atas 5 dasar:

  1. At-Tawhid, tentang ketunggalan Allah. Dalam Bihar al Anwar dan Nahjul Balagha, Imam ‘Ali As menyatakan bahwa Allah itu satu, bukan satu yang setelahnya angka dua, tapi satu tunggal, tidak ada angka dua setelahnya. Syiah meyakini bahwa Allah adalah zat yang tidak terbatas dari segala sisi, oleh karena itu, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena keduanya terbatas. (Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI), Buku Putih Mazhab Syiah, Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar. Cet. IV. (DPP ABI, 2012), hlm.16.)
  2. Al-‘Adlah, tentang keadilan Ilahi. Dalam Bihar al Anwar dan I’tiqadatul Imamiyyah, Imam Ja’far ash Shadiq as menyatakan bahwa Allah itu Maha Adil. Keadilan Allah tidak terhingga.
  3. An-Nubuwwah, tentang Kenabian. Hal ini tidak ada bedanya dengan Iman kepada Nabi-nya kaum Sunni.
  4. Al-Imamah, tentang keimaman para Imam Ma’shumin. Syiah berdalil bahwa seluruh Imam ada 12 berdasarkan Hadist yang bisa ditemukan dalam Kutubus Sunni, yaitu Shahih Bukhari dan Muslim, Tirmizi, Abu Dawud, dan dalam Musnad Imam Hanbal, yang salah satu terjemahan hadist tersebut adalah, “Agama akan tegak berdiri sehingga tiba hari kiamat, dan ada pada mereka 12 khalifah semuanya adalah Quraisy”. Menurut kaum Syiah, hadist-hadist tentang dua belas khalifah tersebut hanya dapat diterapkan kepada 12 imam Ahlul Bait. (Tim ABI, Ibid, hlm. 161 dan 164)
  5. Al-Qiyamah, tentang Hari Kiamat. Hal ini tidak ada bedanya dengan Iman kepada Hari Kiamat-nya Sunni.

Untuk hal yang bersifat furu’, beberapa pendapat masyarakat yang berbeda dengan pemahaman orang-orang Syiah adalah tentang shalat di 3 waktu, syahadatnya berbeda, adzannya berbeda, ketika shalat tidak bersedekap, dan sujud harus pakai turba/kertas. Bahkan ada yang menganggap bahwa kaum Syiah mengafirkan para sahabat nabi selain sayyidina Ali. (PA Islam, Pegawai Kemenag Kota Pekalongan, Pegawai Kesbangpol, tokoh masyarakat dan beberapa warga masyarakat. Wawancara. 31 Mei – 3 Juni 2016.)

Syiah membagi furu’ ini menjadi 10 bagian, antara lain:

1. Shalat ini merupakan manifestasi ibadah yang sesungguhnya. Secara Fikih, menurut Abdul Wahhab Khalaf, hanya ada sedikit perbedaan dengan Sunni. Para fukaha Syiah, demi mengutamakan toleransi dan menghargai selain Syiah, menganjurkan shalat zuhur, asar, juga maghrib secara terpisah sebagaimana ditetapkan dalam fikih sunni. (Tim ABI, Ibid, hlm. 183)

Misalnya mengenai tasyahud Syiah yang wajib ialah Asyhadu an Laailaha illallah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, sedang penyebutan ke-12 Imam Ma’shumin, hanyalah berhukum Mustahab/Sunnah. Selain itu, ada juga tambahannya yaitu Waana Aliyyan Waliyullah, namun bacaan tersebut tidak dibaca pada waktu shalat, yaitu ketika adzan, itupun tidak disuarakan ke khalayak masyarakat, hanya intern saja. Namun menurut Tim ABI, penambahan teks tersebut adalah bid’ah menurut jumhur ulama syiah. (Tim ABI, Ibid, hlm. 50)

Kemudian tentang sedekap, berdasarkan kitab Imam Maliki, bahwa “shalat itu lurus saja, dari semula ke semula”. Menurut informan Syiah, yang dibolehlan sedekap itu hanya dalam kondisi taqiyah keamanan yakni terancam dipukuli, diperkosa, dibunuh dan dirampas harta untuk hidupnya. Tentang alas sujud menghamparkan turbah/kertas di mesjid/mushalla, maka demi terwujudnya persatuan dengan sunni itu menghendaki kita tidak beralas sujud baru diperbolehkan tidak beralas sujud.

2. Zakat, ini merupakan manifestasi dari ‘berbuat baik kepada tetangga’-nya. Dalam fatwanya, Ayatullah al ‘Uzhma Ali Sistani menetapkan bahwa zakat hanya bisa diberikan kepada Syiah Itsna Asy’ariyyah.

3. Shawm, ibadah abadi ini adalah manifestasi dari kesabaran.

4. Hajj, ritual tradisi turun menurun ini hanya bisa dilakukan di Mekkah. Kalau ada yang mengatakan, haji di Karbala lebih utama dari haji di Mekkah, maka itu adalah bohong. ‘Haji’ di Karbala hanyalah sa’i, lagipula hal ini bukan bid’ah, tapi, Imam Zaynul ‘Abidin, Sayyidah Zaynab, dan Sahabat Jabir ibn ‘Abdullah melakukannya, setahun 40 hari setelah kejadian di Karbala.

5. Khums, ini disyariatkan pada tahun kedua dari hijrah nabi saw, namun para ahli tafsir dan ahli sejarah berbeda pendapat pada bulan apa? Dan dalam peristiwa apa? Disyariatkannya khumus. Khumus ini sejenis pajak 20% yang diberikan kepada Allah swt, Nabi Muhammad saw., ahlul bait, yatim, miskin dan fuqara, serta ibnu sabil. (Abd al-Aly al-Sayf, tt, hlm. 9)

6. Jihad, jihad ini adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik itu Jihad bi-Nafs, atau Jihad dengan peperangan.

7. Amr Ma’ruf, mengajak pada kebaikan.

8. Nahyi Munkar, mencegah pada kemunkaran. Kedua hal ini sangat penting, apalagi dalam kehidupan sosial manusia.

9. Tawalla’, mencintai Ahlul Bayt. Dalam artian mencintai dan mentaati Allah SWT, Nabi Muhammad, para imam, dan Fatimah az-Zahra, serta berteman, berlaku baik kepada orang-orang yang mencintai dan mengikuti mereka. Hal ini tercantum dalam al-Quran Surat AsySyura, ayat 23:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

Dalam kitab Durr al Mantsur, hal ini ditujukan kepada Ahlul Bayt Nabi yaitu Imam ‘Ali, Fathimah, Imam Hassan, dan Imam Hussain.

10. Tabarra’, membenci siapapun yang dibenci oleh nabi dan ahlul baitnya. Hendaknya menjauhi dan tidak berkumpul bersama orang-orang yang menjadi musuh Allah SWT, Nabi Muhammad, para imam, dan Fatimah az-Zahra. (Sayyid Muhammad Qadi Mar’ashi, Metode Shalat. 2010, hlm. 6)

Ritual dan Kegiatan Syiah di Ponpes Al-Hadi

Ada beberapa ritual yang rutin dilakukan oleh kelompok Syiah di Pesantren Al-Hadi, di antaranya Asyura (peringatan Sayyidina Hussain), Wiladah Fatimah (peringatan hari kelahiran Sayyidah Fatimah az-Zahra), Idul Gadir (peristiwa pengangkatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib di Gadir Khum) dan hari-hari besar Syiah lainnya.

Untuk pengembangan kajian Syiah di Kota Pekalongan, diwujudkan melalui adanya perkumpulan pengajian aktif, yang diadakan setiap hari Selasa, yang bertempat di Pondok Pesantren Al-Hadi. Kajian yang dibahas adalah materi ketauhidan, hadist hingga materi fikih kehidupan sehari-hari dan fikih perkawinan. Kumpulan pengajian tersebut, terdiri atas laki-laki dan perempuan penganut syiah.

Untuk perkumpulan pengajian perempuan, diadakan pukul 10.00 pagi WIB, untuk perkumpulan pengajian laki-laki, diadakan pukul 13.00 WIB. Selain itu, terdapat pula komunitas Muthahhari Khilqah, yang kegiatannya berupa kajian membahas kitab-kitab hadist, fikih dan tafsir Syiah, misalnya kitab al-Kafi. Kegiatan tersebut dilakukan di masjid dan teras Pondok Pesantren Al-Hadi, dengan sistem diskusi dan tanya jawab. Kelompok atau khilqah perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki.

Selain kegiatan rutin tersebut, ada beberapa kegiatan tahunan yang pasti diadakan oleh kaum Syiah. Misalnya, kegiatan pada tanggal 10 Muharram atau Asyura, yang kegiatannya diisi dengan mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad Saw, Hussein bin Ali. Wafatnya cucu Nabi tersebut, dianggap sebagai pengorbanannya sebagai penerus Nabi Muhammad untuk memperjuangkan agama Islam yang sejati.

Karena cinta yang membuta penganut Syiah terhadap keluarga Ali, penganut Syiah melakukannya dengan kesedihan yang mendalam diwujudkan melalui satu hari tenang di rumah. Pada hari itu penganut Syiah dilarang keluar rumah, waktu tersebut untuk waktu berkabung. Acara Qumail yang biasa dilakukan tiap malam jumat juga tidak dilaksanakan di dalam pondok, tetapi di sebuah rumah di belakang yang terpisah dari pondok.

Selain bentuk kegiatan tersebut, simbol-simbol yang menunjukkan golongan tersebut merupakan penganut Syiah adalah foto-foto atau gambar-gambar yang dominan terpajang di rumah, serta adanya tempat shalat yang lantainya langsung menempel dengan tanah, tanpa batas keramik atau karpet. Hanya saja, tempat shalat tersebut diberi sajadah dengan tempat sujud yang terbuka. Jika dilihat dari nama, biasanya penganut Syiah itu memiliki nama marga yang masih memiliki keturunan dengan Sayyidina ‘Ali, misalnya dengan nama belakang Assegaf, Alatas, dan lain-lain. Tidak hanya

dikenal dengan nama marga saja, dilihat dari sorban untuk shalat, warna sorban tersebut juga memiliki klasifikasi tingkat religiusitas penganut tersebut. Misal, sorban warna hitam itu memiliki tingkat religiusitas lebih tinggi daripada sorban yang berwarna putih.

Relasi Komunitas Syiah dan Komunitas lainnya

Menurut orang MUI dan FKUB, selama ini hubungan orang-orang Syiah yang ada di Kota Pekalongan dengan Sunni dan ormas-ormas Islam lainnya berjalan dengan rukun. Namun demikian, ketika peneliti menanyakan, apakah sudah pernah berdialog dengan orang-orang Syiah dan berkunjung ke Pesantren Al-Hadi, mereka menjawab belum pernah, padahal masih dalam lingkungan Kota Pekalongan. (Marzuki dan Slamet Irfan. Observasi dan Wawancara. dengan Marzuki dan Slamet Irfan. 3 Juni 2016.)

Ketika dikonfirmasi dengan orang-orang Syiah, justru mereka sesungguhnya berkeinginan untuk bisa menjalin silaturahmi dan dialog agar tidak terjadi salah paham tentang Syiah, namun selama ini mereka belum dilibatkan dalam kegiatan baik di MUI maupun FKUB dan beberapa ormas Islam lainnya. (Ahmad Barakbah, M. Ridlo Asegaf dan M. Sofi Alatas. Wawancara. 3 Juni 2016.)

Mengenai hubungan orang-orang Syiah dengan orangorang Al-Irsyad maupun dengan orang NU saat ini relatif kondusif, walaupun sangat jarang bertemu atau hampirhampir tidak pernah ada pertemuan secara resmi dengan mereka. Secara tegas Ahmad Barakbah menyatakan bahwa “Orang Syiah di Kota Pekalongan tidak pernah mengusik keyakinan umat yang lain” Sehingga hingga saat ini, Kota Pekalongan masih tetap dalam keadaan rukun dan damai.

Peran pemerintah

Orang Syiah sesungguhnya mengharapkan adanya pembinaan dari Kementerian Agama, karena Pesantren AlHadi merupakan lembaga resmi yang telah tercatat di notaris dan ini berarti lembaga resmi yang diakui negara, namun hingga penelitian ini dilakukan belum ada pembinaan dari Kementerian Agama Kota Pekalongan. (M. Ridho Assegaf. Wawancara. 3 Juni 2016)

Bahkan, menurut Ahmad Baraqbah, “Syiah tidak dilibatkan dalam dialog-dialog yang dilakukan oleh aparat pemerintah, padahal mereka mempunyai kewenangan untuk memanggil tokoh-tokoh Syiah.”

Hal ini juga diamini oleh kepala Kementerian Agama Kota Pekalongan, bahwa selama ini memang belum pernah ada pertemuan secara resmi maupun tidak resmi dengan orang-orang Syiah. Silaturahmi dan musyawarah sesungguhnya penting untuk meningkatkan kerukunan antarumat beragama, namun memang diakui itu belum menjadi prioritas untuk mengadakan pertemuan dan musyawarah antara pejabat Kemenag Kota Pekalongan dengan orang-orang Syiah. Bahkan Kepala Kankemenag menyarankan agar Kementerian Agama Pusatlah yang memfasilitasi agar dapat mengadakan dialog dan diskusi yang melibatkan tokoh-tokoh Syiah di Kota Pekalongan dan pejabat terkait. (Imam Tobroni. Wawancara. 3 Juni 2016.)

Menurut informasi dari pemerintah kota yang diwakili oleh pejabat di Kesbangpol Kota Pekalongan, selama ini belum pernah ada dialog antar ormas keagamaan yang melibatkan perwakilan Syiah. Namun sesungguhnya dialog dan musyawarah antar ormas dan melibatkan orang-orang Syiah itu penting agar tidak terjadi salah paham terhadap orang Syiah. Karena pada tahun 1985-1990 an dan tahun 2010 an pernah ada sedikit persoalan di Batang dan Kota Pekalongan terkait isu-isu tentang Syiah. (Maryadi dan Ani Junaida. Wawancara. 3 Juni 2016)

Sikap politik Syiah terhadap NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika

Ketika peneliti berkunjung ke Kantor Pesantren AlHadi, terpampang dengan teratur foto presiden dan wakil presiden RI, kemudian di tengah-tengah terdapat burung Garuda Pancasila yang difigura dengan rapih. Orang-orang Syiah menyatakan bahwa, kami cinta NKRI, “hubbul waton minal iman”, begitu pernyataan mereka. Meraka juga mengatakan, “di sini kami dilahirkan dan di sini kami dibesarkan, serta di sini juga tempat mencari nafkah, maka kami akan mempertahankan NKRI, Cinta Indonesia”. (wawancara dengan M. Ridho Assegaf dan beberapa orang-orang Syiah.)

Selama ini orang-orang Syiah hidup bersama dan rukun dengan masyarakat sekitanya yang berbagai etnis dan golongan. Karena mereka merasakan bahwa adanya berbagai macam suku, agama dan golongan menjadikan semakin kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak seperti beberapa negara di Timur Tengah, walaupun mereka sama- sama Muslim (Syiah-Sunni) seperti Syuriah, Arab Saudi dan lain-lain. Di sana masih terus berkecamuk dengan konflik.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yakni:

  1. Para pengikut mazhab Syiah Itsna Asy’ariyyah yang ada di Kota Pekalongan berjumlah sekitar 200 orang dan pada umumnya didominasi oleh suku Arab yang terkonsentrasi di tiga kelurahan, Klego, Krapyak, dan Sugih Waras, kota Pekalongan Timur. Dalam perkembangan para pengikut mazhab Syiah di Kota Pekalongan relatif stagnan, karena mereka hanya fokus mendidik dan dakwah di komunitas mereka.
  2. Ada beberapa paham fiqih Syiah yang berbeda dengan sunni, begitu juga beberapa Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan Furu’ (cabang-cabang agama). Namun, walaupun berbeda, para ulama masih menganggap bahwa Syiah adalah bagian dari Islam.
  3. Belum pernah diadakan dialog dan diskusi resmi antara Syiah dan non-Syiah, maupun antara Syiah dan aparat pemerintah di Kota Pekalongan. Selama ini ormas Islam, Sunni dan Syiah, mengadakan aktivitas masing-masing sesuai kebutuhan dan kepentingan mereka, tanpa saling mengganggu.
  4. Terdapat suasana yang kurang kondusif antara orangorang Syiah dan non-Syiah, hal ini disebabkan enggannya para tokoh agama, beberapa warga Pesantren Al-Hadi dan aparat pemerintah, kecuali aparat kepolisian untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi di antara mereka. Padahal, orang Syiah menghendaki adanya komunikasi dan dialog dengan non-Syiah.

Rekomendasi

Selain kesimpulan di atas, penelitian ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi, yakni:

  1. Pejabat pemerintah, tokoh agama, dan ormas keagamaan hendaknya mulai membuka diri dengan melakukan dialog dan diskusi yang melibatkan orang-orang Syiah, agar mereka saling mengenal dan saling memahami.
  2. Para tokoh agama dan ormas Islam dalam melakukan dakwah di Kota Pekalongan agar tidak memunculkan provokasi kepada pihak yang berbeda paham, agar suasana rukun dan damai yang sudah terbangun dapat lebih ditingkatkan.

Daftar Pustaka

Nata, Abuddin. 2004. Metodologi Studi Islam. PT. Raja Grafindo Persada. Cet. ke-9.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Tim Ahlul Bait Indonesia. 2014. Syiah Menurut Syiah. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia.

Tim Penulis MUI Pusat. 2013. Mengenal & Mewaspadai Syiah di Indonesia. Jakarta.

Yayasan Ahlul Bait. 2013. Khutbah Ghadir Khum. Jakarta: Yayasan Ahlul Bait.

Al-Sayf, ‘Abd al Aly. tt. Khumus Hukum dan Penyalurannya Menurut Lima Mazhab Islam. Penerjemah: Abu Muhammad, Al Hayat.

Tim Ahlul Bait Indonesia. 2012. Buku Putih Mazhab Syiah. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia.

Al-Musawi, Sayyid Husain. 2014. Mengapa Saya Keluar dari Syiah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

sumber tulisan: Dinamika Syiah di Indonesia, hal. 17-36

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here