Dinamika Syiah di Kota Tangerang Banten

0
312
Dinamika Syiah di Kota Tangerang

Dinamika Syiah di Kota Tangerang
Oleh: Nuhrison M. Nuh

Syiah di Kota Tangerang

Syiah mulai berkembang di Kota Tangerang pada tahun 2000 dengan berdirinya Yayasan Aqilah yang didirikan oleh Tarmuzi dan Majelis Ta’lim An-Nur yang dipimpin Ja’far Al-Kaf. Dahulu, ketika majlis taklim ini tidak menonjolkan ke Syiahannya, di kedua tempat ini diadakan pengajian yang diikuti oleh berbagai golongan, tidak hanya penganut Syiah, tetapi juga masyarakat biasa.

Kedua lembaga ini mulai menurun aktivitasnya sejak pimpinannya wafat dan pindah ke tempat lain. Tarmuzi pindah ke Bandung. Anaknya kemudian menempati rumah tersebut dan memutuskan untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal, bukan kantor yayasan. Demikian pula tanah di Jl. Otista. Tanah tersebut telah dijual dan saat ini sudah dialih fungsi oleh pemiliknya menjadi tempat usaha.

Selanjutnya, pada tahun 2013, Ahlul Bait Indonesia atau ABI didirikan dan kepengurusan yang sudah ada saat ini adalah di tingkat wilayah yang berpusat di Kota Serang. Pimpinan ABI Wilayah Banten dipimpin oleh Hendi yang berdomisili di Kota Tangerang.

Saat ini, kegiatan ABI di antaranya majlis taklim yang diselenggarakan di rumah pimpinan ABI. Kegiatan ini diselenggarakan dua kali dalam sebulan. Selain majelis taklim, mereka menyelenggarakan event nasional di daerah Tangerang atau Tangerang Selatan.

Pemilihan tempat di dua daerah tersebut didasarkan pada pertimbangan minimnya resistensi kelompok anti Syiah di sana dibandingkan Kota Jakarta. Di daerah tersebut, pernah diselenggarakan peringatan haul Imam Hussain secara besar-besaran, tepatnya di Ciledug dan BSD. Menurut Amin Munawar yang diundang sebagai penceramah, saat pelaksanaan kegiatan di GOR Kambing, Ciledug, peserta yang hadir berasal dari Sukabumi, Cianjur, Indramayu, Depok, Cirebon, Bogor, Tangerang, Jakarta, Karawang, dan Cengkareng. Peringatan Haul Imam Husain yang wafatnya sangat tragis dan menyedihkan ini selalu dirayakan secara besar-besaran oleh pengikut Syiah.

Perayaan lain yang dirayakan oleh kaum Syiah adalah maulid Nabi Muhammad, peringatan Ghadir Qum (memperingati hari dilantiknya Sayidina Ali sebagai Imam mengggantikan Nabi Muhammad), Wiladah Fatimah (hari lahirnya Siti Fatimah), dan Isra Mi’raj

Ajaran, Ritual dan Upacara Kelompok Syiah.

Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa ajaran pokok dan ritual dalam kelompok Syiah, yakni sebagai berikut:

Ushuluddin

Berbeda dengan kalangan Sunni yang meyakini rukun iman terdiri atas enam hal, di kalangan Syiah, Rukun Iman disebut Ushuluddin atau dasar-dasar agama yang terdiri atas lima dasar, yakni:

Pertama, Tauhid (Keeasaan Allah). Tauhid adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Allah. Ia tidak dilahirkan dari siapapun atau melahirkan siapapun, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.

Kedua, Adil (Keadilan Allah). Adil adalah Allah. Dia tidak membeda-bedakan dan tidak akan mendhalimi ciptaan-Nya. Ia akan memberi pahala dan menghukum siapapun sesuai dengan amal-perbuatannya.

Ketiga, Nubuwat (Kenabian). Allah mengutus para nabi kepada manusia sebagai pembimbing dan contoh Akhlak yang mulia. Oleh karena itu, mereka “suci,” mereka tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Nabi adalah utusan Allah yang bertugas menyempurnkan manusia dan mengajarkan mereka kebenaran. Utusan Allah yang pertama adalah Nabi Adam Asdan yang terakhir dari para Nabi adalah Muhammad bin Abdullah. Jumlah seluruhnya adalah 124.000.

Keempat, Imamat (Kepemimpinan). Setelah Nabi Muhammad wafat, Allah telah menentukan dan telah memilih 12 imam. Satu demi satu penerusnya, untuk memimpin dan membimbing masyarakat hingga hari pembalasan. Seperti para nabi, para imam juga merupakan sosok yang suci dari perbuatan salah dan dosa. Para imam terdiri atas 12 orang dan mereka adalah pengganti pemimpin yang tepat pasca Nabi Muhammad.

Kelima, Imam pertama adalah Imam Ali As, dan yang terakhir adalah Imam Mahdi putra Hassan Al-Askari (Imam Zaman) Ajjallahu Farajah yang berarti “Semoga Allah mempercepat kehadirannya yang masih hidup.

Keenam, Qiamat. Qiamat adalah hari “Pembalasan” tiba. Semua orang akan dihidupkan kembali untuk dihisab/dihitung amal perbuatannya. Barang siapa yang melakukan perbuatan baik di dunia akan mendapat pahala dan masuk surga. Bagi yang melakukan amal perbuatan buruk akan dihukum dan masuk neraka.

Furu’uddin (Cabang-cabang Agama)

Cabang –cabang agama terdiri atas 10 cabang, yakni: Pertama, Shalat. Shalat adalah wajib dilakukan bagi Muslim. Setiap hari ada 5 shalat wajib. Kewajiban shalat berlaku ketika seseorang menjadi “Aqil Baligh”. Umur Aqil Baligh bagi seorang laki-laki adalah setelah berusia 15 tahun, atau lebih awal jika mendapat 3 tanda, dan bagi perempuan adalah setelah berusia 9 tahun.

Kedua, Puasa. Puasa di bulan suci Ramadhan adalah wajib bagi seorang Muslim. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan berlaku sejak terlihat bulan baru Ramadhan hingga malam ketika terlihat bulan berikutnya.

Ketiga, Zakat. Pembayaran yang dilakukan atas 2,5% dari nilai harta yang dimiliki seseorang, seperti emas, perak, gandum, kurma, biji-bijian, kismis, unta, hewan ternak dan domba dengan kondisi tertentu.

Keempat, Khumus. Pembayaran 20% tabungan tahunan seseorang, setelah dikurangi seluruh biaya hidup dari hasil yang diperoleh pada tahun itu. Bagian “sadat” atau keturunan Nabi Muhammad mempunyai hak atas setengah dari jumlah ini, dan diberikan bagi orang miskin dan yang membutuhkannya. Setengah yang lainnya adalah milik Imam ke 12 yang harus diserahkan kepada wakilnya, yaitu ‘Marja’ atau kepada wakil yang diberikan izin untuk mengumpulkannya.

Kelima, Haji. Pergi ke Mekkah untuk berkunjung ke rumah Allah SWT untuk ibadah disebut berhaji. Haji menjadi kewajiban bagi seseorang jika mempunyai dana/biaya yang mencukupi untuk melakukan perjalanan ke Mekkah dan kembali ke rumahnya, termasuk dana/biaya untuk menghidupi keluarganya ketika ia pergi berhaji. Haji dilakukan pada bulan terakhir pada kelender Islam yaitu Bulan Dzulhijjah.

Keenam, Jihad. Jihad artinya bertempur di jalan Allah. Jihad bermakna adalah melawan dan bertahan, dan ini dapat diartikan berbagai macam cara dan lain bentuk. Termasuk mempertahankan seseorang untuk mencegahnya dari perbuatan yang terlarang.

Ketujuh, Amar Ma’ruf. Membimbing dan mendukung orang lain untuk berprilaku dan melakukan perbuatan perbuatan baik.

Kedelapan, Nahi Munkar. Mencegah dan menghentikan seseorang dari perilaku dan perbuatan buruk.

Kesembilan, Tawalli. Mencintai dan mentaati Allah, Nabi Muhammad, para imam, dan Fatimah az-Zahra, dan berteman, berlaku baik kepada orang-orang yang mencintai dan mengikuti mereka.

Kesepuluh, Tabarri. Menjauhi dan tidak berkumpul bersama orang-orang yang menjadi musuh Allah, Nabi Muhammad, para imam, dan Fatimah az-Zahra. (Sayyid Muhammad Qadi Mar’ashi, Metode Shalat, 2010, hlm. 4-6)

Wudhu

Wajib melakukan wudhu untuk semua Shalat Wajib/ Fardhu, kecuali untuk Shalat Mayyit (Shalat bagi orang yang telah meninggal). Di dalam Wudhu, membasuh wajah dan kedua tangan, lalu mengusap sebagian kepala dan punggung kedua kaki.

Adzan dan Iqamah

Adzan dan iqamah yang dilantunkan oleh kelompok Syiah berbeda dengan adzan dan iqamah yang dilakukan oleh kalangan Sunni. Meskipun tidak wajib, dalam adzan ditambah kata: Asyhaduanna Aliyan Amiril Mukminina Waliullah dan Hayya Ala Khayril ‘Amal. Kata-kata itu hanya merupakan pengakuan bahwa Ali adalah Amirul Mukminin, bukan sebagai tambahan syahadat. Sedangkan iqamah, di kalangan Sunni dibaca sekali, di tatacara Syiah semuanya dibaca sebanyak dua kali terkecuali kalimah: Laa Ilaha illa Allah hanya dibaca sekali. (Ibid, hal. 14-17)

Marja

Marja’ adalah rujukan spiritual dalam masalah keagamaan, bukan kenegaraan. Menyangkut kenegaraan, orang Syiah tetap berkiblat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Marja’ haruslah yang masih hidup, tidak boleh orang yang sudah meninggal, agar dapat mengikuti perkembangan baru yang terjadi dalam masyarakat. Marja’ pengikut Syiah di Indonesia kebanyakan merujuk kepada Ali Khamenei. Menurut Mujahid, Iran menjadi Negara Islam bukan karena paham Imamah, tetapi berdasarkan referendum (demokrasi).

Bukti lainnya adalah Hizbullah di Libanon yang mayoritas Syiah, tidak pernah merebut kekuasaan, sehingga tuduhan Syiah berbahaya bagi NKRI merupakan argumentasi yang tidak valid.  (Mujahid. Wawancara. 15 Mei 2016)

Taqiyah

Taqiyah bermakna menyembunyikan keyakinan demi menyelamatkan diri. Taqiyah ini dilakukan dalam rangka melindungi diri dari ancaman pihak-pihak tertentu, dan tidak ada kaitannya dengan kebohongan. Adapun syarat Taqiyah dilakukan apabila:

1). Jiwanya terancam;

2). Keluarganya terancam; dan

3). Hartanya terancam.

Di era Orde Baru, pengikut Syiah menyembunyikan identitas Syiahnya, dan di era reformasi mereka mulai berani menyatakan dirinya Syiah. Meskipun demikian, dalam masalah fikih, mereka terkadang bertaqiyah demi menjaga kerukunan internal umat Islam.

Selanjutnya, mengenai Tahrif, menurut keterangan para mahasiswa yang diwawancarai dan dibenarkan oleh Mujahid, tidak ada ada Tahrif dalam al-Quran. Bahkan, salah seorang kiai NU sudah memeriksa dan mengkaji al-Quran terbitan Iran dan faktanya, al-Quran milik kaum Syiah sama dengan al-Quran milik kaum Sunni.

Pernikahan Mut’ah

Di al-Quran memang disebutkan tentang pernikahan mut’ah, dan menurut para ulama Sunni, ayat tersebut sudah dimansukh. Berbeda dengan pandangan kaum Sunni, jenis pernikahan ini masih diperbolehkan di kalangan Syiah meskipun dengan persyaratan yang sangat ketat. Sehingga, tidak mudah bagi pengikut Syiah untuk melakukannya. Pernikahan mut’ah sebenarnya sama saja dengan pernikahan daim, hanya bedanya, pernikahan mut’ah tidak memperoleh hak waris ketika bercerai, iddah-nya hanya separuh iddah biasa, talak-nya sesuai dengan batas waktu perjanjian.

Istri-Istri Nabi

Mengenai pandangan Syiah terhadap istri-istri Nabi Muhammad, fatwa Rahbar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei menegaskan: ”Tidak boleh ada penghinaan terhadap seluruh istri Rasulullah Muhammad sebab mereka adalah orang-orang terhormat. Barangsiapa menghina siapapun dari mereka, maka sebenarnya ia telah menghina Rasulullah Muhammad”

Rahbar kembali menegaskan: ” Imam Ali bin Abi Thalib A.S, memperlakukan Siti Aisyah dengan penuh penghormatan, padahal ia telah keluar untuk memerangi Amirul Mukminin. Semua perlakuan ini terjadi lantaran Siti Aisyah adalah istri Rasulullah. Jika tidak, Amirul Mukminin tidak pernah bergurau dengan siapapun.

Empat Pilar

Kalangan anti Syiah sering menuduh Syiah berbahaya bagi NKRI dengan merujuk pada peristiwa di Yaman dan Syuriah. Menurut Muh Thayyib, dalam keputusan ABI disebutkan bahwa NKRI itu harga mati, karena tiga pilarnya sangat luar biasa untuk mempersatukan bangsa. Bahkan fatwa Rahbar (semacam Imam Mazhab) menegaskan bahwa setiap wilayah itu harus mempertahankan budayanya masingmasing. Mengenai Pancasila, mereka pun berpandangan bahwa sila-sila tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

Selain itu, mereka berpegang pada sebuah adagium, “apabila tidak bersaudara seagama, maka bersaudara sesama manusia”. Selanjutnya, dalam konteks NKRI, dalam pandangan Syiah, tiga pilar NKRI yang terdiri atas Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika harus tetap dipertahankan secara terus menerus, karena tiga pilar tersebut dapat mempersatukan bangsa.

Tuduhan terhadap Syiah

Beberapa hal yang selalu dipersoalkan dalam mazhab Syiah adalah sebagai berikut:

Pertama, masalah imam yang maksum. Kalangan Sunni meyakini bahwa yang dimaksum hanyalah Nabi Muhammad.

Kedua, tentang wasiat pengangkatan Sayidina Ali sebagai khalifah. Kalangan Sunni pada umumnya tidak mengakui wasiat tersebut.

Ketiga, masalah pemalsuan alQuran. Al-Quran yang digunakan kalangan Syiah berbeda dengan mushaf Utsmani. Padahal, kenyataannya al-Quran yang digunakan kalangan Syiah tidak berbeda dengan al-Quran yang dimiliki oleh umat Islam lainnya. Al-Quran yang dicetak di Iran sama dengan al-Quran yang di cetak di Indonesia.

Keempat, nikah mut’ah sama dengan perzinaan. Banyak orang salah memahami nikah mut’ah, dan menganggap pernikahan tersebut dilaksanakan secara diamdiam. Padahal perbedaan nikah mut`ah dengan pernikahan yang dipahami dan dipraktikan oleh masyarakat Muslim umumnya adalah dalam hal batas waktu.

Sedangkan dalam hal lainnya sama, yakni ijab qabul, dan mahar. Nikah mut’ah bukanlah zina dikarenakan terdapat ijab qabul. Selain itu, nikah mut’ah sebenarnya tidak diwajibkan, melainkan hanya dilakukan dalam situasi darurat.

Kelima, orang Syiah dituduh suka mencaci para sahabat dan istri nabi. Padahal kenyataannya, tidak semua sekte Syiah melakukan hal tersebut. Rahbar Imam Ali Khamenei melarang pengikut Syiah mencaci para sahabat nabi, meskipun di Inggris terdapat sebuah kelompok Syiah yang mencaci para sahabat. Akibat perbuatan kelompok kecil ini, semua Syiah digeneralisasi melakukan perbuatan yang sama.

Kelompok Syiah inilah yang disebut sebagai Syiah Rafidah yang menyebabkan adanya pandangan dan tuduhan bahwa semua Syiah adalah sesat dan merusak Islam.

Keenam, orang Syiah menganut mazhab Jafari. Imam Jafari adalah keturunan Imam Hussein, dan dianggap sebagai tokoh fikih yang mengajar dan melahirkan murid-murid terkemuka salah satunya Imam Malik.

Pandangan Pimpinan Ormas Islam terhadap Syiah

Sikap pemuka Islam non-Syiah terhadap Syiah terbagi ke dalam tiga kategori:

1). Kelompok pertama, menyatakan Syiah sebagai paham sesat, dan pemikiran yang dikembangkan oleh Syiah dianggap tidak sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah;

2). Kelompok kedua, menyatakan Syiah berbeda dengan Sunni, namun tidak menghakimi dan menyatakan Syiah sebagai paham sesat;

3). Kelompok ketiga, menganggap aqidah Syiah sama dengan Sunni, seperti mazhab Ja’fari. Syiah memang terdiri atas banyak faksi sehingga tidak semua Syiah adalah menyimpang.

Selain pengelompokan pandangan di atas, beberapa tokoh ormas memiliki pandangan beragam mengenai Syiah, yakni sebagai berikut:

Amin Munawar ( Ketua FKUB Kota Tangerang)

Menurut Amin Munawar, perkembangan Syiah di Kota Tangerang cenderung tidak maksimal, dikarenakan tiadanya dukungan masyarakat. 21 ormas Islam di Karang Tengah yang tergabung dalam MUI menolak kehadiran Syiah berkembang di Kota Tangrang. Menurutnya, orang Syiah menganggap selain mereka adalah kafir karena tidak meyakini 12 Imam di dalam keyakinan kaum Syiah. Selain itu, Syiah tergolong sesat, karena pemikiran yang dikembangkan mereka tidak sesuai dan al-Quran dan as-Sunnah. (Amin Munawar. Wawancara. 24 Agustus 2016)

Sobrun Jamil (Seretaris PCNU Kota Tangerang)

Syiah di Kota Tangerang tidak berkembang dengan baik, pengikutnya kebanyakan para pendatang. Di sana, Syiah berkembang melalui kajian akademis dan pemikiran filosofis. Dari kalangan Syiah, ada yang bergabung di beberapa majelis zikir. Namun, belakangan terjadi penolakan dari majelis zikir karena dianggap sebagai penyusup yang membawa misi mengubah keyakinan masyarakat. Pengikut Syiah tersebut kemudian dikeluarkan dari majelis zikir. Namun demikian, NU tetap berhati-hati dalam merespon persoalan Syiah termasuk menghindari untuk mengafirkan paham tersebut.

NU justeru bersikap membiarkan keberadaan Syiah selama tidak mengganggu keharmonisan masyarakat. NU juga tidak merasa khawatir akan keberadan mereka di Tangerang, sebab tidak ada penduduk asli yang masuk Syiah, belum mempunyai pondok atau majelis taklim, dan mereka selalu menyelenggarakan kegiatannya di gedung yang tidak bersinggungan dengan masyarakat banyak. (9 Sobrun Jamil. Wawancara. 25 Agustus 2016.)

Drs. H.Saiman (Ketua PD Muhammadiyah Kota Tangerang)

Menurut Saiman, perbedaan paham antara Sunni dan Syiah memang benar adanya. Namun, dia tidak menuding Syiah sebagai paham sesat. Menurutnya, salah satu perbedaan tersebut, adanya anggapan di kalangan Syiah bahwa al-Quran telah diubah para sahabat Nabi Muhammad, sehingga menurut mereka, al-Quran sudah dicampuri oleh pemahaman para sahabat. (Dr. Ihsan Ilaihi Zahir)

Selain itu, terdapat perbedaan antara Syiah dan Sunni dalam memaknai Ahlulbait. Menurut Syiah, Ahlulbait adalah Nabi Muhammad, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain. Sedangkan menurut Sunni, Ahlulbait adalah Nabi Muhammad, keturunannya serta para istrinya.

Abu Midad, Ketua DPD HTI Kota Tangerang

Menurut Abu Midad tidak semua Syiah itu sesat. HTI pun tidak mengeluarkan pernyataan khusus tentang Syiah. Menurutnya, selagi dia memiliki aqidah yang sama, mereka masih tergolong Islam. Akhir-akhir ini, tema Syiah menjadi tema yang sangat “seksi” dibicarakan, dikarenakan muatan politis di dalamnya. Oleh karena itu, menurutnya, HTI tidak ingin dilibatkan dalam masalah tersebut.

Selanjutnya, HTI terkadang membahas dan membincangkan masalah Syiah. Namun, HTI tidak pernah menyatakan Syiah sebagai paham sesat. Menurutnya, Syiah Ja’fariyah tidak melenceng secara umum, kecuali secara personal. Tidak dapat dimungkiri, di dalam Syiah memang ada sekte yang mencaci sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab, tetapi Ja’fari tidak bersikap dan bertindak demikian

Abu Midad menambahkan, Kementerian Agama RI atau kalangan Syiah membuat suatu forum untuk mencari solusi dan klarifikasi atas berbagai tuduhan terhadap Syiah. Abu Midad tidak menyetujui tuduhan dan vonis tanpa sumber informasi yang jelas dan memandang sikap semacam itu sebagai sikap gegabah. Menurutnya, Syiah merupakan kelompok Islam yang juga memiliki sisi-sisi kebenaran, sehingga tidak boleh sembarangan menuduh dan memvonis. (Abu Miqdad (Ketua DPD HTI Kota Tangerang). Wawancara. 29 Agustus 2016.)

Arif, Pengurus MUI Kota Tangerang

Menurut Arif, berdasarkan Deklarasi Amman, aliran/firqah yang diterima di dalam Islam adalah Sunni, Syiah dan Ibadi. Al-Quran yang digunakan kalangan Syiah tidak berbeda dengan al-Quran yang digunakan kalangan Sunni. Mereka mengagung-agungkan Ali dan tidak mengakui khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Namun demikian, menurut Arif, biarkan perbedaan itu ada, yang terpenting kerukunan harus tetap dijaga (KH. As’ad Ali. Wawancara. 31 Agustus 2016.)

Relasi Sosial Pengikut Syiah Menurut Muhamad Thayyib, relasi sosial pengikut Syiah dengan para tetangga dan pengurus RT terjalin dengan baik. Mereka saling berkomunikasi satu sama lain. Mereka membaur dengan kalangan Sunni dengan tidak menampakkan identitas Syiahnya, sehingga mereka dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Saat ini, umumnya masyarakat non-Syiah, belum mengetahui bahwa di Kota Tangerang sudah ada pengikut Syiahnya. Meskipun demikian, potensi konflik tetaplah ada. Hal ini nampak saat terjadinya penurunan spanduk di Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq dan Masjid al-Muhajirin di Ciledug. Spanduk tersebut bertuliskan suatu kajian yang bersifat memojokkan Syiah. Tidak berselang lama, ada kelompok tidak dikenal menurunkan spanduk tersebut dengan alasan berpotensi memancing konflik antar kelompok. Kemudian spanduk diserahkan ke pihak kepolisian. Polisi pun memanggil kedua pengurus masjid dan meminta mereka untuk tidak memasang kembali spanduk-spanduk seperti itu.

Pasca penurunan spanduk, kajian di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap berlangsung dengan pengawalan dari kepolisian. Sedangkan kegiatan di Masjid al-Muhajirin dibatalkan dengan pertimbangan menjaga keharmonisan masyarakat. (Muh Thayyib (Tokoh Syiah). Wawancara. 23 Agustus 2016)

Potensi Konflik

Berdasarkan informasi di lapangan, semua informan tidak mengetahui keberadaan Syiah di Kota Tangerang karena aktivitas mereka tidak terlalu tampak. Sehingga, potensi konflik Sunni-Syiah di Kota Tangerang relatif kecil. Namun, apabila perkembangan Syiah cukup signifikan dikhawatirkan memicu konflik terselubung di antara mereka. Ini dikarenakan para pemuka agama cenderung menolak kehadiran kelompok Syiah di Kota Tangerang.

Saat ini, potensi konflik tersebut tampak pada spandukspanduk yang mendiskreditkan Syiah, dan kalangan Syiah pun menyelenggarakan perayaan Asyura dan peringatan Haul Sayidina Hussein secara besar-besaran yang melibatkan umat dari daerah lain. Meskipun begitu para informan menyatakan tidak akan melakukan tindakan anarkis, dan akan lebih menekankan pendekatan dakwah dan dialog untuk mencari kesepahaman.

Relasi dan Kebijakan Pemerintah

Berkenaan dengan relasi antara komunitas Syiah dan pemerintah, hingga saat ini hubungan keduanya belum terjalin dengan baik. Kementerian Agama Kota Tangerang bahkan tidak mengetahui bahwa di Kota Tangerang terdapat pengikut dan organisasi Syiah. Sehingga Kementerian Agama Kota Tangerang belum mengadakan pembinaan terhadap kelompok Syiah di sana dan belum melibatkan mereka dalam kegiatan yang berkaitan dengan intern umat Islam.

Selanjutnya, terkait izin pelaksanaan kegiatan-kegiatan Syiah di Kota Tangerang, aparat kepolisian pernah memberikan izin peringatan Haul Sayidina Hussein (Asyura) di Ciledug. Aparat kepolisian tidak bersifat diskriminatif terhadap warga Syiah, meskipun ada kelompok tertentu meminta kepolisian membubarkan acara tersebut. Polisi bahkan mengamankan kelompok yang ingin menggagalkan acara tersebut karena dianggap melanggar ketertiban masyarakat. Begitupun Ketua FKUB Kota Tangerang yang memenuhi undangan pengurus Syiah setempat menjadi penceramah pada peringatan Haul Sayidina Hussein tersebut.

Hingga saat ini, memang belum ada program pemerintah untuk mempertemukan kelompok Syiah dengan kelompok lainnya dalam rangka dialog dan tabayyun terhadap tuduhan yang selama ini berkembang mengenai Syiah.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yakni:

  1. Syiah mulai muncul di Kota Tangerang pada tahun 2000 yakni dengan berdirinya Yayasan Aqila yang didirikan oleh Tarmuzi, dan Majelis Taklim An-Nur.
  2. Secara organisasi, ABI berdiri pada tahun 2013. Pada saat itu, Syiah secara kelembagaan berdiri di Kota Tangerang. Namun, dalam perjalanannya, kelompok ini kurang berkembang dengan baik, dan hingga saat ini pengurus ABI tingkat Kota Tangerang belum terbentuk. Organisasi ini juga belum mempunyai kantor atau tempat untuk mengadakan aktivitas keorganisasian dan keagamaan.
  3. Beragam tuduhan terhadap Syiah tidak semuanya benar, sehingga diperlukan klarifikasi dan tabayyun agar tidak terjadi prasangka.
  4. Hubungan antara pengikut Syiah dengan masyarakat selama ini berjalan dengan baik karena umumnya masyarakat belum mengetahui identitas mereka sebagai pengikut Syiah.
  5. Pemerintah masih bersifat pasif dan reaktif, belum ada usaha antisipatif dengan mempertemukan kedua kelompok yang berseberangan untuk berdialog dan bertabayun. Upaya ini diharapkan memunculkan sikap saling memahami dan menghargai.

Rekomendasi

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yakni:

  • Perlu dibentuk pengurus yang betul-betul punya minat untuk mengembangkan organisasi, dan terbuka terhadap pihak luar. Ada kesan pengurus ABI Kota Tangerang masih sangat tertutup sehingga sulit untuk dihubungi.
  • Pemerintah perlu memfasilitasi dialog di antara dua kelompok yang masih berseberangan, dialog yang beusaha untuk saling memahami bukan dialog yang bersifat debat kusir.

Daftar Pustaka

Tim Penulis MUI Pusat. 2014. Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI). Jakarta: Formas (Forum Masjid Ahlus Sunnah).

Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI). 2012. Buku Putih Mazhab Syiah, Menurut Para Ulamanya Yang Muktabar. Cet IV. Jakarta: DPP ABI.

Suharto, Rudi (ED). 2014. Tim Forum Internasional untuk Pendekatan Antarmazhab Islam: Imamiyah di Tengah MazhabMazhab Islam. Cet I. Jakarta: ICC Nur Al-Huda.

Qadi Mar’asih, Sayid Muhamad. 2010. Metode Shalat Rasulullah SAW. Cet 1. Jakarta: Yayasan Ahlulbayt.

Falah Zadeh, Muhammad Husain. 2015. Fikih Praktis Untuk Pemula. Jakarta: Nurul Huda Marzuqi, Muhamad Sulaiman. Mengenal Lebih Dekat Sang Pewaris Nabi Saw, jilid 1 dan 2. Tangerang: Yayasan Miftahul Huda.

Sang Pewaris Nabi Dalam al-Quran & alHadits. Tangerang: Yayasan Miftahul Huda.

Membedah Al-Quran. Tangerang: Yayasan Miftahul Huda.

Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus, Sebuah Dialog. Tangerang: Yayasan Miftahul Huda.

Membedah Shirathal Mustaqim. Jilid 1 dan 2. Tangerang: Yayasan Miftahul Huda.

Sumber: Dinamika Syiah di Indonesia, hal. 37-54

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here